Hari Raya Tambal Langit

Perayaan Tambal Langit (Pu Thien Chon) ini merupakan tradisi suku Hakka (khek), dilakukan pada hari ke-20 Tahun Baru Imlek.

top-8-chinese-new-year-goodies-nian-gao

Menurut cerita tradisi, hujan di Tahun Baru Imlek merupakan petanda baik, berarti Langit menurunkan rejeki yang berlimpah untuk tahun tersebut. Namun apabila hujan berlangsung terus-menerus sampai hari ke-20 Tahun Baru Imlek, maka hujan akan turun terus-menerus sepanjang tahun. Hujan yang terlalu banyak bukan lagi merupakan hal yang baik, karena bisa menyebabkan banjir dan petani tidak bisa bercocok tanam.

Maka untuk menghentikan hujan yang turun secara berlebihan masyarakat Tionghua, suku Hakka, mempersembahkan Kue Keranjang (Nian Gao) kepada Langit, supaya bisa menambal langit yang bocor. Pada hari Tambal Langit ini, orang khek lebih suka tidak melakukan pekerjaan apapun dan fokus untuk sembahyang. Menurut kepercayaan tradisi orang khek, rejeki apapun yang diperoleh pada hari ke-20 ini tidak bisa disimpan, dan akan bocor.

Ada juga versi lain, yang menceritakan pada zaman dulu terjadi peperangan Dewa Air dan Dewa Api. Perang ini menyebabkan Langit bocor, dan hujan turun terus-menerus membanjiri bumi. Kemudian Dewi Nu Wa, menggunakan 5 batu untuk menambal langit yang bocor ini. Untuk memperingati peristiwa tersebut, orang suku khek mempersembahkan kue keranjang yang lengket kepada Dewi Nuwa, untuk membantu menambal langit.

Categories: Tambal Langit | Leave a comment

Cap Go Meh

Cap Go Meh (hokkien / tiociu) secara harafiah berarti Malam ke-15 Tahun Baru Imlek. Secara tradisi, perayaan Cap Go Meh merupakan penutupan dari perayaan Tahun Baru Imlek. Jalanan dihiasi dengan lampion, dan ramai orang bersembahyang kepada Langit sebagai wujud syukuran bisa melakukan perayaan Tahun Baru Imlek dengan baik.

cap-go-meh-singkawang-4

Khusus orang Tionghua Kalimantan Barat, perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan yang dirayakan secara meriah. Perayaan Cap Go Meh dimulai dari hari ke-13 Tahun Baru Imlek, biasa disebut hari Naga Buka Mata. Sebelum Naga buat pawai Cap Go Meh diturunkan ke jalan, terlebih dahulu orang Tionghua melakukan sembahyang kepada Langit untuk mohon restu dari Langit secara simbolis. Biasanya dilakukan pada siang hari.

cap-go-meh-singkawang-2

Dan khusus untuk kota Singkawang, di malam hari ke-13, masyarakat kota Singkawang melakukan Pawai Malam Lampion dengan meriah. Mobil-mobil dan ruko-ruko dihiasi dengan berbagai lampion. Koko-koko dan cici-cici singkawang yang ikut mobil pawai menggunakan aneka kostum unik.

5-pawai-lampion-2016_kaka

Dan akhirnya pada hari ke-15, baru dilakukan pawai budaya secara besar-besaran di jalanan. Yang terdiri dari pawai budaya Tionghua-Dayak-Melayu.

cap-go-meh-singkawang-1

Untuk menyaksikan kemeriahan perayaan Cap Go Meh di Kalimantan, disarankan bagi turis dari luar kota untuk membooking hotel minimal 6 bulan sebelumnya. Karena tempat penginapan di kota Pontianak dan Singkawang masih sangat terbatas.

Categories: Cap Go Meh | Leave a comment

Sembahyang Tebu

Menurut tradisi orang Tionghua suku Hokkien, Tahun Baru Imlek hari ke-9 adalah Hari Raya Sembahyang Tebu, atau Pai Thi Kong (Sembahyang Langit). Selama 2-3 hari sebelum harinya, pasar-pasar tradisional orang Tionghua dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan batang tebu dan berbagai pernak-pernik sembahyang, seolah-olah menyambut Tahun Baru Imlek.

tebu

Tradisi ini memang berawal dari kisah perang zaman dulu dan masyarakat suku Hokkien bersembunyi di Perkebunan Tebu untuk menyelamatkan diri. Kurang tau persisnya di zaman apa, secara umum mengatakan pada zaman awal Manchuria menguasai daratan Tiongkok. Setelah Dinasti Ming ditaklukan orang Manchuria, berbagai daerah di pedalaman masih melakukan perlawanan termasuk di daerah Fujian yang merupakan kampung halaman orang Hokkien.

Untuk memadamkan perlawanan, kaisar Manchuria mengirimkan pasukan yang sangat besar ke Fujian dan membantai orang-orang kampung. Hari tersebut bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Untuk menyelamatkan diri, orang-orang suku Hokkien bersembunyi di dalam hutan dan sebagian lagi bersembunyi di perkebunan tebu yang lebat.

Setelah beberapa hari, situasi sudah aman. Perlawanan terhadap Manchuria sudah dipadamkan, dan tentara Manchuria sudah tidak lagi membunuhi orang-orang kampung. Maka warga kampung yang sembunyi di dalam perkebunan tebu pun keluar, dan ternyata sudah hari ke-9. Maka untuk memperingati hari tersebut, masyarakat Hokkien melakukan sembahyang kepada Langit di malam hari ke-8 Tahun Baru Imlek dengan mempersembahkan TEBU sebagai simbol syukuran.

Categories: Sembahyang Tebu | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.