Moon Cake Festival (Mid-Autumn Festival)

Setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek, masyarakat Tionghua di seluruh dunia merayakan Festival Kue Bulan. Perayaan ini merupakan salah satu TRADISI PALING PENTING dalam kebudayaan masyarakat Tionghua. Pada Tahun 2017 ini, Festival Kue Bulan jatuh pada tanggal 4 Oktober penanggalan Masehi. Jika ditelusuri secara sejarah, perayaan ini sudah berlangsung kurang lebih 3.000 tahun lamanya, dimulai sejak zaman Dinasti Shang, dan lebih dikenal dengan nama Zhongqiu Jie (Mid-Autumn Festival), karena memang dirayakan pada saat pertengahan musim gugur.

IMG_20171004_070627_4781

Pada tahun-tahun berikutnya, perayaan ini dirayakan pada tanggal:

  • 2017: October 4
  • 2018: September 24
  • 2019: September 13
  • 2020: October 1

Sajian khas pada perayaan ini adalah Kue Bulan. Disebut dengan Kue Bulan, karena kue ini dibuat karena terinspirasi oleh kecantikan dan keindahan bulan purnama yang bulat dan berwarna kuning keemasan. Ketika bulan sudah terlihat diatas langit, semua anggota keluarga berkumpul bersama memandang keindahan bulan yang bulat sempurna sambil memakan kue bulan dan menikmati teh hangat.

moon_cake_2

Sedangkan bagi pasangan yang sedang dilanda asmara, Festival Kue Bulan juga bisa menjadi suatu acara makan malam yang ROMANTIS. Bayangkan saja ketika berduaan bersama pasangan duduk ditepi pantai menghadap kelaut, memandang bulan yang bulat sempurna, sambil menikmati kue bulan dan teh hangat…hm~

Namun keturunan Tionghua masa kini sudah banyak melupakan arti penting tradisi ini. Maka kali ini saya ingin mengingatkan kembali kepada semua teman-teman makna dan cerita menarik dibalik perayaan Festival Kue Bulan.

1. Sejarah Perayaan Festival Kue Bulan

Pada zaman Dinasti Shang, leluhur bangsa China masih menganut kepercayaan paganisme dan memuja bulan. Pada tanggal 15 bulan 8, bulan terlihat paling indah dari dataran China. Festival ini dikenal juga dengan sebutan Perayaan Pertengahan Musim Gugur (Zhong Qiu Jie), karena tanggal 15 bulan 8 merupakan pertengahan musim gugur. Pada waktu ini, para petani dalam suasana hati senang dan santai, merayakan hasil panen mereka yang berlimpah.

Semua anggota keluarga berkumpul di halaman rumah, menyajikan kue, buah, dan sayuran hasil panen untuk memuja Dewi Bulan. Pertengahan Musim Gugur merupakan musim untuk berkumpul kembali bersama keluarga, disebut juga Bulan Yang Bulat Sempurna (Yue Yuan), keluarga pun berkumpul bersama (Ren Yuan).

2. Cerita Hou Yi dan Chang E

Suatu ketika di China ada 10 matahari yang bersinar bersamaan dan cuaca sangat panas dan mengakibatkan tanah kering, rumput dan tanaman mati dan sungai pun menjadi kering. Rakyat China menderita di mana-mana.

Pada masa itu, hiduplah seorang yang bernama Hou Yi, seorang pemanah yang kuat dan ia menjinjing busurnya kemudian memanah jatuh ke 9 matahari dan menyisakan 1 yang tetap bersinar menerangi bumi. Ia menyelamatkan banyak orang, Kaisar Langit sangat terkesan dan kemudian menganugrahi dia sebuah obat ramuan ajaib yang berkhasiatkan hidup abadi.

moon_cake_4

Tapi, Peng Meng, murid Hou Yi yang tamak menginginkan ramuan tsb. Saat Hou Yi meninggalkan rumah pergi berburu, Peng Meng dengan langkah mencuri-curi masuk ke rumah Houyi untuk mengambil obat tsb. Ia kemudian mendesak Chang’e, istri dari Hou Yi untuk menyerahkan obat tsb padanya. Dengan tidak rela dan terpaksa agar Peng Meng tidak mendapatkan obat tsb maka Chang’e meminum habis obat tsb dan seketika ia terbang ke atas langit dan hidup abadi di sana.

moon_cake_5

Ketika Houyi pulang mendapatkan istrinya telah tiada, ia pun menangis tak henti-hentinya dan menatap ke langit. Seketika itu, ia melihat sekilas bayangan istrinya di bulan. Ia pun bersumpah setia dan mempersembahkan kue dan buah-buahan di meja altar untuk menghormati istrinya.

3. Peringatan Pendirian Dinasti Ming

Pada tahun 1271-1368, dataran China dikuasai oleh bangsa Mongol dan mereka mendirikan Dinasti Yuan. Selama masa pemerintahan Dinasti Yuan, banyak terjadi pemberontakan yang hendak menggulingkan pemerintahan asing dan menegakkan kembali Dinasti Song yang merupakan dinasti orang Han. Namun semua usaha pemberontakan itu gagal.

Pada masa akhir Dinasti Yuan, ada seorang tua dari Dinasti Song, pada beberapa hari sebelum Hari Raya Zhong Qiu, menyebarkan desas-desus kemana-mana: Makanlah kue bulan pada Hari Raya Zhong Qiu, dengan demikian dapat terhindar dari wabah menular!

Sebenarnya ini merupakan sebuah siasat dari orang-orang yang setia kepada Dinasti Song dan hendak menggulingkan Dinasti Yuan. Karena desas desus itu, banyak orang yang membeli kue bulan.

Orang-orang yang setia kepada Dinasti Song ini secara khusus membuat kue bulan dalam jumlah yang sangat banyak dan mengedarkannya ke pasar-pasar. Didalam kue bulan tersebut sudah diselipkan secarik kertas yang bertuliskan “Bunuh orang Mongol pada bulan Purnama”

Dan 4 bulan kemudian, Dinasti Yuan berhasil digulingkan oleh Zhu Yuan Zhang yang kemudian naik tahta menjadi Kaisar dan bergelar Ming Tai Zhu. Kemudian Ming Tai Zhu menjadikan kue bulan sebagai Peringatan Mendirikan Negara [Dinasti Ming = 1368 – 1644], dan menjadikan Hari Raya Zhong Qiu sebagai Hari Raya memulihkan kekuasaan Negara.

Demikian sekilas cerita dibalik Perayaan Festival Kue Bulan.

 

ANEKA KUE BULAN PONTIANAK

Khusus di kota Pontianak, terdapat komunitas besar orang Tionghua. Masyarakat Pontianak membuat aneka kue bulan yang khas Tionghua Pontianak. Biasanya kue-kue bulan ini dipesan lewat WhatsApp 08179998777 dan dikirim fresh dari pengrajinnya langsung di Pontianak. Dan hanya diproduksi setahun sekali.

mooncake_pontianak

Kue Bulan Minyak Babi (Tiociu = La Pia, Hakka = Nyiet Piang)

mooncake_lapia

Pontianak terkenal dengan kuliner berbasis daging babi. Termasuk kue bulan juga dibikin dengan campuran minyak babi pada kulitnya. Jadi wanginya lebih harum dan rasanya gurih. Tekstur kulitnya berlapis-lapis krn proses pemanggangan. Sedangkan bagian dalam berisi adonan tausa yang sedikit creamy (kacang hijau kupas kulit). Creamy nya itu juga karena tercampur minyak babi.

Kue Bulan Pasir (Tiociu = Pek Theng Ko, Hakka = Phak Tong Kau)

mooncake_pekthengko

Sesuai namanya, tekstur kulitnya seperti pasir yang halus, ada butir2an saat menyentuh lidah. Tekstur berpasir ini terbentuk dari tepung beras ketan yang diadon dengan gula pasir, kemudian dipanggang. Kuenya agak seret di mulut, tapi cocok banget dihidangkan dengan teh tawar panas atau kopi pahit. Malah jadi lembut seperti selai. Isinya terbuat dari adonan tausa (kacang hijau kupas kulit) yang manis.

Kue Bulan Lembut (Tiociu = Neng Ko, Hakka = Nyion Kau)

mooncake_nengko

Kulit luarnya terbuat dari adonan tepung beras ketan hitam, sehingga teksturnya lembut dan kenyal seperti mochi, tapi agak berminyak (ditambahkan minyak sayur biar ga lengket). Bagian dalam adonan tausa (kacang hijau kupas kulit), rasanya manis. Dihidangkan bersama teh tawar panas buat sarapan sangat cocok. Kue bulan ini disebut juga Ah Ma Ko (kue nenek). Menurut tradisi Tionghua Pontianak zaman dulu, apabila calon mempelai pria hendak melamar seorang calon mempelai wanita dan wanita itu masih memiliki nenek yang tinggal serumah, maka pria itu wajib menambahkan kue ini dalam salah satu barang lamaran.

Kue Bulan Gula Merah (Tiociu = Chiu Theng Ko, Hakka = Su Thong Kau)

mooncake_chiutengko

Sesuai namanya, kue bulan ini menggunakan gula merah dalam salah satu bahan dasar. Terbuat dari adonan beras ketan, dicampur dengan gula merah, kemudian di panggang. Teksturnya juga terasa berpasir di lidah, karena proses pemanggangan beras ketan bercampur gula itu, mirip dengan kue bulan pasir. Bedanya kue bulan jenis ini tidak memiliki isi tausa, tapi polos begitu saja. Walaupun polos begitu saja, kue bulan ini memiliki daya tarik tersendiri, yaitu lebih harum dan rasa manisnya cocok dengan kopi atau teh.

~ SEMOGA FESTIVAL KUE BULAN MEMBAWA KEBAHAGIAAN BAGI ANDA SEMUA ~

Salam,

Tito Zheng

Advertisements
Categories: Moon Cake | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Moon Cake Festival (Mid-Autumn Festival)

  1. andrew

    Di keluarga saya selalu melakukan Cheng Beng setiap tahun sekitar 5 April. Kadang lebih awal beberapa hari, atau seminggu sebelumnya atau seminggu sesudah tgl 5 April. Kita selalu ke Pantai utk melakukan Cheng Beng dengan membawa bunga dan makanan dan melakukan doa secara agama Katolik, karena sebagian besar keluarga beragama Katolik. Setelah itu kita melakukan tabur bunga di laut.

  2. Tradisi ziarah / mendoakan leluhur juga merupakan salah satu tradisi penting dlm kebudayaan orang tionghua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: