GEDUNG REICHSTAG TERBAKAR

GEDUNG REICHSTAG TERBAKAR

 

Hitler menjadi Kanselir pemerintahan demokrasi Republik Weimar, tapi Hitler sama sekali tidak berminat dengan pemerintahan demokrasi, yang diinginkan olehnya adalah pemerintahan absolut yang totaliter. Tapi kekuasaan sebagai Kanselir masih belum bisa mewujudkan Revolusi Nazi yang direncanakan olehnya. Dalam pemerintahan demokrasi, setiap peraturan dan kebijakan dari pemerintah akan dibahas terlebih dahulu oleh Anggota Dewan sebeluh disahkan. Dan Nazi belum bisa mendapatkan kursi yang absolut di Reichstag untuk mensahkan semua kebijakan Hitler.

 

Maka langkah politik yang dimainkan Hitler sekarang adalah mengendalikan Reichstag.

 

Gedung Reichstag mulai dibangun sejak 1871, namun karena ada beberapa kendala birokrasi, pembangunan baru bisa rampung pada tahun 1894. Sejak zaman kekaisaran Jerman, Gedung Reichstag sudah berfungsi sebagai gedung parlemen yang membahas dan mensahkan kebijakan dari Kaisar. Tapi pada waktu itu, Kaisar tidak memerlukan pengesahan dari parlemen untuk mengeluarkan kebijakan.

 

Banyak perubahan yang terjadi sejak Hitler diangkat menjadi Kanselir. Salah satu yang penting adalah Hermann Goring sebagai Menteri Negara mengambil alih kepolisian. Goring segera memutasi banyak perwira kepolisian, sehingga hanya perwira kepolisian yang setia kepada Nazi saja yang memperoleh jabatan. Goring juga memerintahkan kepolisian untuk tidak ikut campur terhadap gerakan yang dilakukan oleh Pasukan SA maupun SS. Dan inilah awal dari teror Nazi terhadap lawan politiknya terutama terhadap kaum komunis.

 

Pada tanggal 22 Februari 1933, Goring membentuk satu lembaga kepolisian pamong praja, yang tidak bersenjata (sama seperti Satpol PP di Indonesia). Tugas dari kepolisian pamong praja ini adalah untuk mendukung tugas kepolisian, dan sewaktu-waktu bisa mengambil alih fungsi kepolisian apabila situasi dalam keadaan darurat. Dan orang-orang kepolisian pamong praja ini tentu saja direkrut dari SA dan SS. Ketika awal dibentuk, jumlah polisi pamong praja ini 50.000 personil.

 

Dua hari setelah lembaga ini terbentuk, Kepolisian Negara dan Kepolisian Pamong Praja langsung menggeledah ke markas pusat Partai Komunis Jerman. Sejumlah tokoh partai ditangkap dan dituduh hendak melakukan tindakan anarki. Tapi tujuan sebenarnya dari penggeledahan ini adalah Nazi ingin mengambil catatan keanggotaan Partai Komunis dan kelak data ini akan digunakan untuk menangkap anggota Partai Komunis yang berjumlah sekitar 4000 orang.

 

Untuk meyakinkan massa bahwa Komunis hendak melakukan aksi anarki, Goebbels dan Goring merencanakan untuk MEMBAKAR gedung Reichstag, tentu saja rencana ini sudah mendapatkan persetujuan Hitler.

 

Secara kebetulan, pada waktu itu muncul anggota komunis yang memprotes kapitalisme di Jerman. Nama orang itu Marinus Van der Lubbe, seorang pria berusia 24 tahun, yang berasal dari Belanda. Beberapa kali dia kepergok hendak membakar gedung-gedung pemerintahan sebagai bentuk protesnya. Namun polisi selalu gagal menangkapnya.

 

Dan pada malam 27 Februari, Lubbe berhasil menyelinap masuk kedalam gedung Reichstag dan mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk membakar gedung Reichstag. Dan pada malam itu, sekitar jam 9 malam, si jago merah melahap Gedung Reichstag.

 

Tidak jauh dari Reichstag, Hindenburg dan Papen yang kebetulan sedang makan malam. Melihat kebakaran itu, mereka berdua menjadi orang pemerintahan pertama yang tiba di lokasi.

 

Sementara itu Hitler sedang makan malam bersama keluarga Goebbels. Setelah mendapatkan kabar mengenai kebakaran, Hitler dan Goebbels segera menuju ke lokasi. Ketika sampai di lokasi, Hermann Goring sudah berteriak-teriak menuduh kaum komunis yang melakukannya. Tentu saja tidak demikian kejadiannya, karena sangat tidak masuk akal seorang pelaku pembakaran bisa menyebabkan kebakaran hebat pada gedung Reichstag.

 

Entah bagaimana kejadiannya, ada salah seorang anggota Pasukan SA yang mengenal Van der Lubbe dan berteman dengannya. Dan kemudian rencana membakar Reichstag itu sampai ke telinga Goring, dan kemudian momentum ini dimanfaatkan untuk menyempurnakan rencana membakar Reichstag.

 

Maka pada malam itu, diam-diam sejumlah pasukan SA dikerahkan ke Reichstag untuk mendukung aksi Van der Lubbe. Mereka menyelinap maksud ke Gedung Reichstag melalui jalan bawah tanah yang terhubung ke kediaman Goring. Sebelum Van der Lubbe memulai kebakaran, pasukan SA sudah terlebih dahulu menebarkan minyak ke seluruh ruangan gedung dan bergegas kembali tanpa ada yang mengetahui aksi ini. Sehingga ketika kebakaran sudah mulai, api dengan cepat langsung menyambar ke seluruh gedung dan menghanguskan seluruh Reichstag.

 

Setelah kebakaran itu, Hindenburg segera mengumpulkan orang-orang pemerintahan di istananya dan melakukan rapat darurat. Dan kemudian terdengar kabar bahwa Marinus Van der Lubbe berhasil ditangkap.

 

Dalam rapat itu Hitler berseru dengan lantang dan berapi-api: “Rakyat Jerman sudah lama bersikap lembek. Semua komunis harus ditangkap dan dihukum pada malam ini juga. Semua partai yang berkoalisi dengan komunis juga akan mendapatkan ganjaran serupa, termasuk Partai Sosial Demokrat”

 

Setelah rapat darurat itu, Hitler menemui Goebbels untuk mendiskusikan berbagai cerita tentang komunis yang hendak mengambil alih Berlin. Cerita ini akan dipublikasikan di media massa, dan menjadi bahan propaganda Hitler untuk membasmi komunis.

 

Keesokan harinya, Hitler menggelar rapat kabinet. Hitler mendesak untuk memberlakukan Undang-undang Negara Dalam Keadaan Darurat. Dan tentu saja ide itu mendapatkan penolakan dari anggota kabinet yang sebagaian besar bukan orang Nazi. Tapi kemudian Hitler dan Papen berhasil mendapatkan persetujuan Presiden untuk memberlakukan undang-undang itu, “demi melindungi negara dan rakyat Jerman”, demikian Papen membujuk Hindenburg.

 

Isi dari undang-undang itu antara lain:

– Pembatasan hak berpendapat

– Pembatasan hak kebebasan pers

– Pembatasan hak berkumpul dan berkelompok

– Pengawasan terhadap setiap surat, telepon, dan telegram

 

Maka setelah undang-undang itu diberlakukan, pasukan SA dan SS langsung turun kejalan-jalan melakukan sweeping dan penangkapan anggota komunis, sampai mendobrak kedalam rumah. Ribuan anggota komunis ditangkap, termasuk anggota Partai Sosialis Demokrat juga ikut diamankan. Mereka semua dibawa ke barak pasukan SA, disini mereka ditahan, diinterogasi, disiksa, bahkan dibunuh.

 

“Saya tidak perduli dengan pengadilan, tugas saya adalah menghancurkan dan memusnahkan. Tidak ada yang lain”, kata Goring dalam sebuah wawancara pada tanggal 3 Maret.

 

Dalam operasi penyerbuan ini, 51 orang dilaporkan tewas. Dan kemudian Nazi segera mengambil alih media massa. Joseph Goebbels mengambil alih stasiun radio nasional, menyiarkan informasi palsu mengenai bukti-bukti bahwa Komunis hendak mengambil kekuasaan. Sebaliknya mempropagandakan hanya Hitler dan Partai Nazi yang mampu meredam Komunisme.

 

 

HITLER MENGENDALIKAN FUNGSI REICHSTAG

 

Pada tanggal 5 Maret 1933, dilakukan pemilihan umum untuk merombak anggota Reichstag. Pada pemilu kali ini, Nazi memperoleh suara terbanyak 44%, tapi tetap gagal memenuhi kursi mayoritas di Reichstag yang menurut peraturan adalah dua pertiga dari total kursi. Tentu saja ini menjadi batu penghalang bagi Hitler untuk memperoleh KEKUASAAN ABSOLUT SECARA LEGAL.

 

Tapi ini merupakan suatu kemajuan yang besar, karena sejak Hitler menjadi Kanselir, Nazi secara sistematis mulai mengambil alih kekuasaan. Dengan memanfaatkan status negara dalam keadaan darurat, SA dan SS mendobrak masuk ke berbagai instansi pemerintahan, menggantikan pejabat berwenang dengan orang-orang Nazi.

 

Semua barak tentara yang sudah tua dan pabrik yang sudah tidak beroperasi diambil alih oleh SA dan dijadikan tempat tahanan politik. Jumlah mereka ada ribuan, setiap hari dikenakan sanksi disiplin ala militer, bahkan kadang ada yang disiksa sampai mati. Tempat tahanan ini merupakan konsep awal dari Kamp Konsentrasi.

 

Dengan berkurangnya lawan politik, kekuasaan absolut sudah dalam genggaman. Maka pada tanggal 15 Maret, Hitler mengadakan rapat kabinet yang membahas “BAGAIMANA BERTINDAK TANPA MELALUI PERSETUJUAN REICHSTAG”. Ketika kebijakan ini disahkan, maka Hitler memiliki kuasa untuk membuat undang-undang baru, mengatur anggaran negara, bahkan mengeluarkan kebijakan luar negeri.

 

Status negara dalam keadaan darurat yang ditanda tangani oleh Presiden Hindenburg membuat Hitler semakin leluasa bertindak. Jika ada Anggota Dewan di Reichstag yang menentang kebijakan Nazi, maka tinggal ditangkap saja orang itu dan kemudian segera digantikan oleh orang yang tunduk kepada Nazi. Dengan kemampuan Hubungan Masyarakat yang piawai, segala permainan politik yang dilakukan Nazi terlihat sebagai hal yang benar di mata masyarakat. Hanya orang-orang dibalik kawat berduri tempat penahanan saja yang tahu kebusukan sebenarnya dari Nazi.

 

Pada tanggal 23 Maret, anggota Dewan Reichstag yang terpilih melakukan sidang di Gedung Opera Kroll, di Berlin. Dalam gedung tua ini mereka membahas agenda sidang yang menyatakan “KEBEBASAN BERTINDAK BAGI KANSELIR ADOLF HITLER”. Sementara itu gedung SA dikawal ketat (diancam) oleh Pasukan SA. Dalam moment yang penting ini, Nazi tidak mau ada kejadian interupsi dari apapun.

 

Untuk mengesahkan kebijakan ini, Nazi hanya perlu tambahan 31 suara untuk menjadikan suara mayoritas. Untuk memperoleh dukungan, Hitler berjanji segera mencabut larangan berkumpul dan berkelompok. Janji ini sangat menggiurkan bagi partai yang berlandaskan agama, misalnya Partai Tengah Katolik. Hitler juga berjanji untuk mengurangi pengangguran, membuat kesepakatan menguntungkan dengan Prancis, Inggris, dan Rusia.

 

Kemudian isi dari kebijakan itu dibacakan dan pemungutan suara dilakukan. Hasilnya 441 suara untuk SETUJU dan 84 suara MENOLAK. Dan anggota partai Nazi langsung menyambut gembira hasil voting itu, ada yang bertepuk tangan, ada yang loncat kegirangan dari kursi, ada yang menangis, dan ada yang bersorak-sorai, berbagai ekspresi kegirangan ditunjukkan pada waktu itu. Dan sidang itu ditutup dengan lagu Partai Nazi.

 

Dengan demikian, demokrasi sudah berakhir. Nazi berhasil menggulingkan demokrasi dengan cara yang demokrasi. Reichstag sekarang hanya jadi forum untuk bertukar pikiran dan jajak pendapat. Era pemerintahan Nazi sudah dimulai, segala aspek kehidupan dibawah kendali lambang Swastika Nazi dan kepemimpinan totaliter Adolf Hitler.

 

Tapi menguasai Reichstag bukan berarti posisi Hitler sudah aman. Masih ada masalah yang harus dibereskan Hitler sebelum dirinya benar-benar menjadi THE FUHRER.

Categories: ROH Part 16 | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: