PERTARUNGAN KEKUASAAN: HITLER VS HINDENBURG

CLASH OF THE TITANS: HITLER VS HINDENBURG

 

Masa berkabung ada masanya, setelah 3 minggu bersedih dan tidak melakukan apa-apa  karena kehilangan kekasihnya, Adolf Hitler kembali melek. Dia masih harus meneruskan perjuangan politiknya dan jalannya masih panjang. Salah satu agenda politik yang sudah menanti adalah Adolf Hitler dan Presiden Paul von Hindenburg dijadwalkan untuk bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Oktober 1931.

 

Hindenburg adalah mantan Jendral pasukan garis depan yang membantu Jerman memenangkan banyak pertempuran ketika PD I. Pada waktu itu dia berusia 66 tahun. Dia pensiun di pada tahun 1919 pada usia 71 tahun. Kemudian pada tahun 1925, Hindenburg terpilih menjadi presiden Republik Jerman yang kedua.

 

Ketika bertemu untuk pertama kalinya, kesan Hitler terhadap Hindenburg adalah seorang KSATRIA TUA yang sangat disegani. Secara pangkat militer juga ada perbedaan yang sangat jauh, karir militer Hitler hanya sampai Kopral, sedangkan Hindenburg adalah seorang Palinglima Jendral Angkatan Bersenjata. Hitler bersikap sopan dan berusaha mengambil simpati Ksatria Tua ini, namun Presiden Hindenburg tidak terkesan dengan Adolf Hitler.

 

Dalam pertemuan itu, Hindenburg ingin mengajak Hitler bergabung di pemerintahan sebagai koalisi dari Republik. Hitler setuju saja, tapi dia menuntut posisi sebagai seorang KANSELIR (jabatan sejenis Perdana Menteri). Tentu saja tuntutan itu ditolak oleh Hindenburg, karena saat itu Jerman sudah memiliki seorang Kanselir, dan juga Hindenburg menganggap Hitler tidak cocok berada di posisi yang tinggi sebagai Kanselir. Posisi yang ditawarkan Hindenburg hanyalah sebatas seorang menteri negara.

 

Karena tidak ada kesepakatan, maka Hitler memilih untuk tetap menjadi oposisi.

 

Sistem multi partai di Jerman membawa ketidak stabilan politik dalam Reichstag dan menimbulkan pemerintahan yang tidak efektif. Tiap partai memiliki kepentingan sendiri dalam pemerintahan. Sementara itu keadaan di Reichstag semakin diperparah oleh seringnya aksi Walk Out partai Nazi yang dipimpin oleh Hermann Goring.

 

Rakyat Jerman sudah 2 tahun menderita akibat Krisis Ekonomi Global. Jutaan orang menjadi penganguran, dan ribuan bisnis lokal bangkrut. Bahkan di ibukota Berlin, orang sering berkelahi dan saling bunuh untuk merebut jatah ransum makanan untuk orang miskin. Mereka mengharapkan pemerintah yang berkuasa bisa mengendalikan situasi, tapi tampaknya pemerintahan tidak mempunyai solusi yang tegas. Oleh karena itu, banyak orang yang mulai mengalihkan harapan kepada Partai Nazi dan janji politik Adolf Hitler.

 

Pada tahun 1932, pemerintahan Jerman yang berkuasa dihadapkan pada satu situasi yang sulit. Jerman akan melakukan pemilihan presiden untuk ketiga kalinya. Sedangkan Presiden Hindenburg yang menjadi simbol persatuan partai koalisi sudah berusia 84 tahun, dan sudah terlalu tua untuk dipilih kembali menjalankan pemerintahan. Sementara itu, partai-partai yang berkoalisi tidak ingin kekuasaan berpindah tangan ke Hitler dan Partai Nazi nya. Sebab mereka tahu, dengan berkuasanya Adolf Hitler, maka berakhir pula Republik Jerman.

 

Kanselir Bruening pernah sekali mengundang Hitler kekediamannya untuk merundingkan koalisi. Tapi jawaban Hitler tetap TIDAK. Hitler bersikukuh dengan tuntutan posisi Kanselir dan beroposisi dengan pemerintahan.

 

Karena didesak oleh beberapa pihak dan tidak ada pilihan lain, akhirnya Hindenburg bersedia dicalonkan kembali sebagai Presiden Republik Jerman. Hitler sendiri ikut mencalonkan diri sebagai Presiden, melawan Hindenburg.

 

Tapi saat itu ada satu isu penting tentang Adolf Hitler, yaitu masalah KEWARGANEGARAAN. Secara resmi Hitler adalah warga negara Austria. Dan ini merupakan skandal politik paling konyol sepanjang sejarah. Bagaimana bisa seorang warga negara Austria menjadi seorang pemimpin partai di negara lain, bahkan mencalonkan diri sebagai Presiden di negara lain. LUAR BIASA!!! Tapi masalah ini dengan cepat bisa ditangani oleh lembaga hukum Partai Nazi. Dan akhirnya Hitler tetap bisa mencalonkan diri sebagai presiden.

 

“ROTI dan KEBEBASAN”, slogan ini selalu dipakai oleh Hitler dalam kampanyenya.

 

Maka Goebbels dan Hitler merencanakan dengan baik kampanye yang lebih luar biasa daripada ketika pemilihan anggota dewan. Berkat dukungan dana dari para investor, Goebbels bisa terus menyisipkan propaganda Nazi pada media cetak bahkan pada film-film yang diputar di teater. Poster-poster Nazi dan Hitler tertempel disemua kota Jerman. Setiap harinya Goebbels dan Hitler bekerja keras mengunjungi setiap kota di Jerman untuk berpidato.

 

Hindenburg sendiri hampir tidak melakukan apa-apa, selain wawancara dengan para wartawan dan siaran radio. Reputasi besar dia sebagai seorang Ksatria Tua tetap menjadikan daya tarik tersendiri bagi kebanyakan orang. Goebbels merasa Hitler akan memenangkan pemilihan presiden kali ini, namun dugaan dia keliru. Rakyat Jerman kebanyakan masih berpandangan konservatif.

 

Pada pemilihan putaran pertama pada tanggal 13 Maret 1932, calon presiden ada 4 kandidat.

– Paul von Hindenburg, bukan orang partai, memperoleh suara 18,651,497 suara (49.6%)

– Adolf Hitler, dari Partai Nazi, memperoleh suara 11,339,446 suara (30%)

– Ernst Thalmann, dari Partai Komunis Jerman, memperoleh 4,983,341 suara (10%)

– Theodor Duestenberg, dari Partai Rakyat Nasionalis Jerman, memperoleh 2,557,729 suara (6.8%)

 

Karena tidak ada suara yang absolut, maka dilakukan pemilihan putaran kedua. Walaupun Hitler kalah suara dalam pemilihan presiden, tapi efek propaganda itu membawa pengaruh besar pada Jerman. Rakyat Jerman sekarang jadi mengenal lebih banyak tentang Partai Nazi. Maka akibatnya anggota Partai Nazi mulai membludak dan semakin banyak pengikut yang fanatic. Suatu saat, para fanatik ini yang menjadi asset penting Partai Nazi dalam menaklukan Eropa.

 

Ketika Hitler sedang menghadapi pemilihan presiden putaran kedua, dia menghadapi masalah baru. Temannya Ernst Rohm, ketua pasukan SA yang kini berjumlah 400.000 orang, terlibat skandal. Ernst Rohm dituntut karena melakukan hubungan seksual dengan remaja pria dibawah umur. Hitler sebenarnya sudah tau bahwa temannya ini seorang homoseksual, dan selalu memperingatinya untuk berhati-hati, tapi karena Hitler sangat membutuhkan Rohm, maka dengan kekuasaannya Rohm bisa dibebaskan dari tuduhan dan mengatakan kepada media massa bahwa ini adalah isu politik dari lawan untuk menjatuhkan reputasi Hitler. Dan Hitler tidak menyalahkan Rohm atas kejadian ini.

 

Pada pemilihan putaran kedua pada tanggal 10 April 1932, Hitler memperoleh suara sebanyak 36% dan Hindenburg memperolah suara sebanyak 53%. Ksatria Tua ini kembali memimpin Jerman untuk 7 tahun kedepan. Walaupun Hitler kalah dalam pemilihan presiden, tapi popularitasnya sudah tidak bisa dianggap remeh.

 

Sementara itu di ibukota, ada pihak ketiga yang ingin memancing di air keruh. Dia memanfaatkan pertikaian antara Hitler dan Hindenburg ini sebagai jalan untuk meraih kekuasaan. Dia seorang perwira militer di angkatan bersenjata Jerman, namanya Kurt von Schleicher.

 

Dan memang sudah Kehendak Langit untuk membawa Hitler sebagai pemimpin Jerman.  Schleicher ini seharusnya yang menjadi batu sandungan dan berniat menyingkirkan Hitler, tapi aksinya malah membuat jalan Hitler menuju kursi kepemimpinan makin mulus.

 

*Tik…tok…tik…tok*

Waktu semakin berpihak kepada Adolf Hitler. Pintu untuk menuju puncak kesuksesan sudah terbuka.

Categories: ROH Part 12 | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: