TRADISI QING MING dan CIOKO

TRADISI CENG BENG

Salah satu tradisi Tionghua yang selalu diperingati tiap tahunnya adalah tradisi ziarah kubur. Tradisi ini dimaksudkan untuk menghormati para leluhur yang sudah meninggal. Kegiatan yang dilakukan pada tradisi ini berkenaan dengan upacara kematian, misalnya mendoakan arwah leluhur, membersihkan makam, memperbaiki makam yang rusak, sampai ada juga orang yang memberikan sesajen dupa, membakar uang, dan menaruh makanan dingin didepan makam leluhur.

ceng_beng_1

Dan bagi yang leluhurnya tidak memiliki makam, mungkin dikremasi dan cuma ditaruh di rumah abu atau altar keluarga, maka perayaan Ceng Beng bisa dilakukan di rumah abu atau di depan altar keluarga. Bisa juga dilakukan di tepi laut, tempat menyebarkan abu leluhur.

Perlu diingat, masyarakat Tionghua sangat menjunjung tinggi nilai-nilai KEKELUARGAAN, dan menghormati orang tua dan leluhur adalah suatu keharusan. Dan menghormati orang tua bukan sekedar ketika orang tua masih hidup, tapi setelah kematian juga terus dihormati dan dikenang.

Selain tradisi perayaan Tahun Baru Imlek, biasanya pada perayaan tradisi Ceng Beng ini, orang Tionghua juga bela-belain MUDIK ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Jadi tradisi Ceng Beng ini adalah suatu tradisi yang sangat bagus dan HARUS diwariskan dari dulu sampai sekarang. Pada hari Ceng Beng, semua anggota keluarga BERKUMPUL BERSAMA dan menghormati, mengenang, dan mengingat jasa-jasa para leluhur.

Secara tradisi, festival Ceng Beng ini diperingati setiap tahunnya setelah 104 hari setelah titik balik matahari yaitu 21 atau 22 Desember (kalender masehi). Maka dari itu Ceng Beng selalu jatuh pada tgl 5 April,sedangkan pada tahun kabisat berarti 4 April.

Dalam keluarga saya, tradisi ziarah makam ini bukan suatu tradisi yang wajib dilakukan pada tgl 4 atau 5 April, tapi kapan saja juga bisa.

Dan pada masyarakat tertentu, misalnya di Indonesia, perayaan Ceng Beng diperingati 2x dalam setahun. Peringatan yang pertama pada tanggal 4-5 April, dan yang kedua biasanya seminggu sebelum perayaan tradisi Cioko. Maksudnya adalah, apabila tidak sempat melakukan ceng beng pada awal tahun, masih ada kesempatan untuk melakukannya di Ceng Beng kedua.

ASAL USUL TRADISI CENG BENG

Jika membicarakan tradisi, belum lengkap rasanya kalo belum membahas asal usulnya.

Pada mulanya, tradisi Ceng Beng, atau Qing Ming (Qing = Jernih, Ming = Cemerlang) ini adalah tradisi untuk menikmati hijaunya musim semi. Karena pada tanggal segitu memang merupakan pertengahan dari musim semi, dimana matahari masih adem-ayem dan dataran serba hijau.

ceng_beng_2

Pada tahun 722 M, Dinasti Tang diperintah oleh Kaisar Xuanzong. Xuanzong merupakan nama gelar, nama aslinya Li Long Ji, kaisar generasi ke-7 Dinasti Tang.

Kaisar Xuanzong ini melihat rakyatnya terlalu boros dan berlebihan dalam mengadakan upacara penghormatan leluhur, terutama keluarga bangsawan. Namun tradisi menghormati leluhur merupakan tradisi yang bagus. Maka untuk menghemat pengeluaran, maka Kaisar mengumumkan tradisi penghormatan leluhur hanya boleh dilakukan setahun sekali, yaitu pada saat festival Qing Ming.

Maka dengan demikian, festival Qing Ming juga menjadi lebih meriah, bukan sekedar duduk-duduk menikmati hijaunya musim semi. Pagi-pagi buta, rakyat sudah pergi ziarah kubur dan membersihkan kuburan leluhur. Setelah itu pulang dan berkumpul bersama keluarga untuk makan bersama. Dan setelah itu baru keluar menikmati hijau nya musim semi

TRADISI CIOKO (Sembahyang Rebutan)

Ada satu tradisi juga yang mirip tradisi Ceng Beng, yaitu tradisi Cioko atau Sembahyang Arwah.

Tradisi Cioko biasanya diperingati setiap tanggal 15 bulan 7, penanggalan Imlek. Tradisi ini bukan murni dari tradisi Tionghua, tapi sudah dipengaruhi oleh agama Buddha. Dalam agama Buddha ada perayaan Ulambana, yaitu tradisi untuk berdoa untuk ketentraman arwah leluhur. Tradisi ini awalnya diperingati tgl 15 bulan 8, penanggalam Imlek. Namun karena masyarakat Tionghua memperingati hari raya Kue Bulan, maka tradisi ini dipercepat menjadi menjadi bulan 7.

Pada tradisi Ceng Beng, sembahyang ditujukan untuk leluhur yang dikenal baik, misalnya ayah-ibu, kakek-nenek.

Pada tradisi Cioko, sembahyang ditujukan untuk leluhur yang sudah tidak dikenal, misalnya kakek buyut dan generasi diatasnya lagi. Masyarakat cina menganggap leluhur yang tidak dikenal itu tidak ada yang mengurusnya lagi, jadi merasa kasihan. Maka dari itu dibuatkan penghormatan seadanya.

Dulunya tradisi Cioko ini dilakukan dengan sederhana saja, masyarakat Tionghua biasanya hanya menyajikan semangkok nasi atau kue, dan kemudian ditancapkan dupa, dan dihidangkan di depan rumah.

Hakekatnya perayaan Cioko ini adalah untuk bersedekah. Maka kemudian perayaan ini dikembangkan dengan membagikan makanan kepada fakir miskin. Dan di tangan penguasa zaman dahulu, pembagian sedekah ini dibuat jadi suatu tontonan menarik.

ceng_beng_3

Jadi makanan ditumpuk diatas meja altar, dan fakir miskin dikumpulkan disekeliling. Ketika sudah senja, orang-orang miskin itu dipersilahkan untuk merebut makanan sebanyak yang bisa mereka raih. Sering kali karena jatah makanan terbatas dan orang miskin dipenuhi keserakahan, maka terjadi perkelahian dan pertumpahan darah. Maka dari itu disebut Sembahyang Rebutan (Cioko).

Tradisi Sembahyang Rebutan ini masih dilakukan sampai sekarang, tapi dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi. Prosesi rebutan ini masih ada, tapi pesertanya dibatasi dan ada aturan main. Dan setelah sembahyang rebutan, barulah kelenteng-kelenteng membagikan sedekah kepada fakir miskin.

Categories: Qing Ming | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: